Sabtu, 09 Januari 2010

Hidup Indah dengan Bersahaja


Perilaku boros terhadap harta memang sudah ada di dalam dirinya, ditambah lagi perilaku boros adalah salah satu tipu daya yang membuat harta yang kita miliki tidak efektif mengangkat derajat kita.
Harta yang dimiliki justru menjerumuskan, membelenggu dan menjebak kita dalam hubungan tipu daya harta karena kita salah dalam menyikapinya.
Hal ini dapat kita perhatikan dalam hidup keseharian kita. Orang yang punya harta, kecenderungan untuk menjadi pecinta harta cenderung lebih besar. Makin bagus, makin mahal, makin senang, maka makin cintalah ia kepada harta yang dimilikinya.
Lebih dari itu, maka ingin pulalah ia untuk memamerkannya. Terkadang apa saja ingin dipamerkannya, ada yang pamer kendaraan, pamer rumah, pamer mebel, pamer pakaian, dan lain-lain. Sifat ini muncul karena salah satunya kita ini ingin tampil lebih wah, lebih bermerk, atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin bermerk barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-Nya.” (QS. Al Isra’ [17]:26-27)
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjakan itu ditengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan 25:67)
Jelasnya kiranya, sikap boros lebih dekat kepada perilaku setan, naudzubillaah. Karenanya, budaya bersahajalah salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri. Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang-barang yang bagus, mahal, dan bermerk. Silahkan saja!.
Tapi ternyata kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan bagi kita. Saya kira hikmah dari krisis ekonomi yang menimpa bangsa kita, salah satunya kita harus benar-benar mengendalikan keinginan kita. Tidak setiap keinginan harus dipenuhi.
Karena jikalau kita ingin membeli sesuatu karena ingin dan senang, keinginan itu cepat berubah. Kalau kita membeli sesuatu karena suka, maka ketika melihat yang lebih bagus, akan hilanglah selera kita pada barang yang awalnya lebih bagus tadi.
Belilah sesuatu hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu! Perlukah saya beli barang ini? Matikah saya kalau tidak ada barang ini? Kalau tidak ada barang ini saya hancur tidak? Itulah yang harus selalu kita tanyakan ketika akan membeli sutau barang. Kalau saja kita masih bisa bertahan dengan barang lain yang lebih bersahaja, maka lebih bijak jika kita tidak melakukan pembelian.
Karenanya, biasakanlah untuk senantiasa bersahaja dalam sikap yang kita lakukan. Dan mudah-mudahan dalam kondisi ekonomi sulit seperti ini Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjadi orang yang terpelihara dari perbuatan sia-sia dan pemborosan. Wallahu a’lam bish showah.
Sumber : Kh. Abdullah Gymnastiar
Majalah Al-Falah Edisi 1 Agustus 2006

0 komentar: